Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Merbabu (3142 mdpl)

Gambar
  Ada beberapa kenang - kenangan dari pendakian februari lalu, beberapa foto yang sempat saya ambil sewaktu mendaki gunung merbabu, tidak terlalu bagus memang. Maklum, hanya dengan kamera biasa. Sejenak, gambar-gambar ini membuat ingatan saya kembali meraba memori tentang pendakian waktu itu. Sebuah proses jalan yang lelah dan berhenti untuk beristirahat di lembah yang damai (gambar 1) : Pos 2 Jalur Pendakian Wekas Skyline    Perjalanan tidak berhenti di lembah ini, ketika kunang - kunang telah merasakan kantuknya dan kembali ke sarangnya, kami merangkak mencoba melihat garis indah yang dibuat oleh Allah swt (gambar 2). Semuanya dilanjutkan ketika surya telah mengeluarkan cahayanya. Cahaya yang menerangi dunia untuk penanda dimulainya hari. Inilah  Cahaya pagi, yang memanaskan tubuh dan menghangatkan suasana juga membuat indah tanaman yang ada.  Bibir Tebing      Tapi, beberapa saat kemudian raga ini  tersentak cukup d...

“Kearifan Lokal (Hompongan) Suku Anak Dalam Provinsi Jambi”

  “…. Hutan tidak hanya sebagai apabila rumah buat kami. Namun juga sebagai sumber kehidupan, hutan habis, maka habislah kehidupan kami. “ Ø Sejarah Singkat Kelompok masyarakat terasing yang bermukim di sekitar pegunungan duabelas Jambi menyebut diri Orang Rimba yang dibedakan dengan masyarakat luar, yang disebut orang terang. Anak Dalam juga merupakan sebutan diri yang mereka senangi, dan mereka sangat marah jika disebut orang Kubu, sebutan itu dianggap merendahkan diri mereka. Dalam percakapan antar warga masyarakat jambi tentang orang Kubu tercermin dari ungkapan seseorang yang menunjukan segi kedudukan dan kebodohan, misalnya membuang sampah sembarangan diumpat “Kubu kau….!”. sebutan lain yang disenangi orang rimba ialah “sanak”, yaitu cara memanggil seseorang yang belum kenal dan jarang bertemu. Bila sudah sering bertemu maka panggilan akrab ialah “nco” yang berarti kawan.(Soetomo, 1995:58) Senada dengan diatas Butet Manurung juga mengemukakan bahwa, kubu bera...

lirik

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih kenapa matahari terbit menghangatkan bumi aku orang malam yg membicarakan terang aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi aku orang malam yg membicarakan terang aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan yg takkan pernah ku tau dimana jawaban itu bagai letusan berapi bangunkan ku dari mimpi sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati terangi dengan cinta di gelapku ketakutan melumpukanku terangi dengan cinta di sesatku dimana jawaban itu     cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan yg takkan pernah ku tau dimana...