Nasionalisme dari Teras Selatan Republik
“Jangan tanya
tentang Nasionalisme pada mereka di perbatasan, karena Nasionalisme mereka
lebih besar dari anda sekalian”
-ungkapan salah
satu senioren Rimbawan-
Nasionalisme, salah satu kata yang
banyak digaungkan belakangan ini. Terlebih lagi dengan maraknya isu mengenai
degradasi kecintaan terhadap budaya bangsa hingga kurangnya penghargaan akan
produk lokal. Alhasil berkembanglah banyak cara yang ingin dilakukan oleh
pemerintah untuk menjaga apa yang disebut “Nasionalisme” itu di masyarakat.
Salah satu yang sedang sangat hangat adalah program Bela Negara oleh
Kementerian Pertahanan RI. Pertanyaan besar apakah sedemikian sulitnya untuk
menanamkan “Nasionalisme” ke dalam tiap sanubari individu bangsa, apa yang sebenarnya
“kurang” dimiliki oleh republik ini sehingga tidak mampu memahami hingga
menerapkan Nasionalisme di kehidupan berbangsa dan bernegara ?
Mari kita belajar kepada saudara
kita di perbatasan, karena mereka yang ada di teras negara telah memberikan saya
pelajaran berharga akan Nasionalisme. Jawaban dari pertanyaan di atas akan
diurai melalui cerita dari salah satu teras negari, ujung selatan NKRI tepatnya
di sebuah desa di balik bukit “Te Bole”. Belajar mengenal Nasionalisme dari
desa Te Bole dimulai dari proses program pengabdian yang diwajibkan oleh
Universitas Gadjah Mada kepada tiap mahasiswanya. Proses yang dalam
perjalanannya telah memberikan banyak tanya, mulai dari minimnya pihak yang
ingin mendukung secara materi (dengan alasan karena tidak ada program di sana)
hingga banyaknya pihak yang belum mengenal lebih jauh tempat ini.
Maka pertanyaan besar muncul di
sanubari ini, apa kita sedang berada di sebuah rumah yang untuk masuk ke
dalamnya menggunakan pintu ke mana saja untuk langsung menuju ruang tamu ? Dari
pertanyaan besar inilah pencarian akan pengetahuan mengenai Nasionalisme pada
mereka di teras negara berjalan. Nasionalisme dari mereka yang sedang dilupakan
tapi tak pernah melupakan negara tercinta. Belajar dari mereka cinta akan
kebesaran negara di tengah kecilnya sumabangn negara kepada kehidupan mereka.
Dan belajar bersama mereka akan suatu penerapan cinta terhadap negara yang oleh
ahli sosial humaniora disebut Nasionalisme dengan cara sederhana.
Apalagi yang dapat dipelajari
mengenai Nasionalisme dari Te Bole ? desa yang memiliki masyarakat yang setia
mengakui dirinya bagian dari Republik ini. Masyarakat yang setia mendukung dan
menerapkan semua cita pemerintah meski tak pernah mendapat perhatian bahkan
sekelas pendampingan pengelolaan sumberdaya alam. Mereka yang tetap setia
mengibarkan sang Merah Putih dengan gagah berkibar meski akses komunikasi
hingga fasilitas umum jauh dari kata memadai. Bahkan mereka yang tetap setia
mencintai negeri meski salah satu oknum dari luar daerah pernah berkata desa
inilah Jakarta tahun 1945.
Masih banyak hal lain yang bisa
dipelajari dan sulit diungkapkan satu per satu untuk memahami Nasionalisme ala
Masyarakat Te Bole. Sebuah inti yang dapat dipetik dari masyarakat teras
selatan negeri ini adalah keikhlasan mereka pada negara sangat tinggi meski
rasa itu belum berbalas budi. Lalu apakah masyarakat di “ruang tamu” negeri
masih tidak bisa memahami nilai Nasionalisme dengan segala kecukupan yang ada.
Ataukah ini semua bukti pengaruh mental Inlander (Mental Terjajah kalau kata
Pak Rhenald Kasali) sehingga sebelum merasakan sakit kita akan sulit untuk
mandiri dan berdikari bahkan hanya untuk mencintai negeri ini dengan
Nasionalisme yang tertanam di sanubari. Mari kita jadikan “keihlasan” yang
diajarkan masyarakat teras selatan negeri sebagai bekal pribadi untuk memahami
apalagi menerapkan Nasionalisme pada republik yang kita cintai, Indonesia.
*disalin dari sumbangan penulis atas Jurnal KKN UGM Rote 2015
Borgata Hotel Casino & Spa - MapyRO
BalasHapusThe Borgata 계룡 출장샵 Hotel Casino & Spa is a casino hotel 속초 출장샵 located 정읍 출장마사지 in Atlantic City, New Jersey. 서산 출장샵 The property was built in 2008 and is owned and operated by 제천 출장마사지